3 weeks ago, Posted by: artsas02

Fenomena Cyber Sastra Di Era Modern

Kedatangan sastra cyber dalam wacana kesusastraan Indonesia sampai saat ini masih menarik buat diperbincangkan. Walaupun sudah timbul lebih dari satu dekade, semenjak 2000, sastra cyber terus menjadi menampilkan inovasi dalam bersastra. Para pegiat sastra cyber( buat tidak menyebut sastrawan cyber, sastrawan dirasa bernilai‘ agung’) makin tumbuh, bersamaan dengan bertahannya web sosial media serta maraknya pengguna web.

Salah satu permasalahan yang belum bisa‘ diselesaikan’ oleh para kritikus sastra merupakan di mana posisi sastra cyber dalam aneka macam genre sastra? Perihal ini, salah satunya, disebabkan oleh tuduhan ataupun pemikiran sinis terhadap sastra cyber yang sampai saat ini masih terjalin. Di antara lain terpaut dengan mutu karya yang dihasilkan pegiat sastra cyber. Mutu karya sastra cyber dituding tidak sejajar dengan karya sastra hasil para sastrawan ataupun penulis kenamaan, yang karyanya memperoleh label‘ sastra adiluhung’ ataupun‘ sastra terkenal’ yang laku di pasaran.

Definisi Sastra Cyber

Sastra cyber didefinisikan selaku sastra yang ditulis dengan memakai media internet ataupun teknologi informatika yang lain. Dalam esainya“ Literature in Cyberspace”dilaporkan kalau sastra cyber merujuk pada seluruh tipe sastra yang ditulis di internet serta program pc yang lain.

Dalam esainya tersebut, para ahli membagi sastra cyber ke dalam 3 tipe. Awal, seluruh tulisan di internet yang ada dalam laman- lama handal, semacam web sastra, harian dalam jaringan( daring), ataupun majalah daring. Kedua, seluruh tulisan nonprofesional, semacam dalam web individu, jejaring sosial, serta tulisan penulis pemula yang lain. Ketiga, seluruh wujud tulisan yang dikemas dalam hypertext.

Endraswara( 2003) menyebut sastra cyber dengan cybersastra( penyusunan sebutan bahasa Inggris dengan mencampurkan awalan cyber-). Baginya, penafsiran cybersastra bisa dilihat dari makna katanya, cyber berarti pc. Jadi, sastra cyber dimaksud selaku sastra yang ditulis dengan memakai media pc serta jaringan yang menghubungkan antarkomputer( internet).

Sejarah serta Pertumbuhan Sastra Cyber

Saat sebelum menarangkan lebih banyak menimpa sastra cyber, butuh dikenal terlebih dulu sejarah kemunculan sastra dengan media digital ini. Di Indonesia, sastra cyber timbul bersamaan berkembangnya teknologi internet pada dini 2000- an. Pegiat sastra cyber menggunakan mailing list( milis), situs- situs, sosial media, serta web buat membuat komunitas sastra ataupun semata- mata memublikasikan karya mereka. Salah satu karakteristik utama dari karya yang dihasilkan merupakan orisinalitas karya yang mereka publikasikan sebab tidak terdapatnya intervensi pihak lain, semacam editor, serta pula tanpa sensor.

Wacana sastra cyber mengemuka dalam area sastra Indonesia bermula dikala diluncurkannya( dicetak) antologi puisi cyber berjudul Graffiti Gratitude. Puisi- puisi yang dilansir dalam Graffiti Gratitude merupakan puisi yang ditulis lewat mailing list( milis) penyair@yahoogroups. com serta web www. cybersastra. net. Kedua media tersebut dikelola oleh Yayasan Multimedia Sastra( YMS) yang dimotori oleh Medy Loekito, Nanang Suryadi, Cunong, Tulus Widjanarko, Sutan Iwan Soekro Munaf, yang seluruhnya ialah nama- nama yang diketahui dalam dunia kepenulisan( sastra).

Sebutan sastra cyber diprediksi awal kali dilontarkan oleh YMS lewat Graffiti Gratitude. Dalam pengantar antologi puisi tersebut, Medy Loekito menyebut jelas kalau puisi- puisi yang dikumpulkan dalam novel antologi tersebut merupakan puisi cyber, cocok yang tertera dalam judul. Begitu pula dengan Saut Situmorang dalam esainya“ Bergantung pada Kata Hati Saja Quo Vadis Kritik Sastra Indonesia”( Kompas, 1 Juli 2001) menyebut puisi- puisi dalam novel antologi tersebut merupakan puisi cyber.

Semenjak dikala seperti itu, sebutan puisi cyber serta sebagian sebutan yang lain, semacam sastra cyber serta sastrawan cyber, mulai mengemuka. Tidak hanya Graffiti Gratitude yang terbit pada April 2001, YMS pula menerbitkan Cyberpuitika, puisi- puisi cyber dalam wujud compact disc( CD) multimedia.

Bersamaan bergantinya waktu, angka pengguna internet di Indonesia terus menjadi bertambah. Bersumber pada survey Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia( APJII), pengguna internet di tahun 2012 menggapai 63 juta orang( http:// www. antaranews. com/ kabar/ 348186/ pengguna- internet- indonesia- 2012- capai- 63- juta- orang), dengan perkembangan dekat 18% tiap tahunnya.

Perihal tersebut pasti berbanding lurus dengan pertumbuhan sastra cyber. Walaupun belum dicoba studi yang valid, bisa ditentukan pengguna internet yang menulis karya sastra di internet terus menjadi tumbuh serta jauh lebih pesat semenjak kemunculan wacana sastra cyber dini 2000- an. Karya- karya tersebut ditulis di antara lain lewat web, web, serta media jejaring sosial.

Perihal ini menampilkan kalau sastra cyber jadi wahana buat berkreasi di bidang sastra yang bisa dicoba siapa juga. Sastra jadi kepunyaan bersama, tanpa terdapatnya“ dominasi” sastrawan, pakar sastra, ataupun penulis- penulis ternama. Tiap orang bisa menulis puisi, fiksi, serta wujud sastra yang lain di internet.

Tidak hanya jadi aktivitas individual, para pegiat sastra cyber ini pula membentuk komunitas buat bisa silih mengapresiasi, baik di dalam web, web, ataupun media sosial. Di antara komunitas yang diisi oleh pegiat sastra cyber tanpa mengaitkan sastrawan( kenamaan) di antara lain Forum Arisan Sastra( FARIS) serta Komunitas Menulis Asik.

Tetapi demikian, banyak sastrawan ataupun penulis ternama pula mulai memakai internet buat wadah berkreasi serta silih mengapresiasi. Perihal tersebut menampilkan kalau sastra cyber tidak lagi jadi genre baru yang terpisah dari genre sastra yang sudah mapan, tetapi jadi media baru yang bisa dimanfaatkan dalam bersastra. Misalnya, penulis Agus Noor serta Clara Ng yang memotori Fiksi Mini( www. fiksimini. net serta www. twitter. com/ fiksimini).

Buat tingkatan lokal, misalnya, terdapat komunitas Fiksi Mini Sunda( www. fikminsunda. com serta www. facebook. com/ groups/ fikminsunda) yang dimotori oleh sastrawan serta budayawan Sunda semacam Godi Suwarna, Dadan Sutisna, serta Hadi AKS. Tidak hanya itu, terdapat komunitas sastra yang bergiat di luar jaringan( luring) saat ini membentuk komunitas daringnya di internet, semacam Forum Lingkar Pena( FLP), Rumah Dunia, Apresiasi Sastra, serta lain- lain.

Bentuk- bentuk karya sastra cyber sama semacam sastra yang biasa diketahui. Terdapat puisi serta pula prosa. Menariknya, dalam sastra cyber, tulisan prosa tidak cuma dinikmati dalam wujud cerita pendek( cerpen) saja melainkan dalam wujud fiksi mini ataupun flash fiction, cerita estafet( cerfet), fan fiction( ff) serta cerpen‘ keroyokan’, ialah suatu cerpen yang ditulis lebih dari satu orang. Perihal ini ialah inovasi sastra yang tidak bisa dinilai dengan sebelah mata dalam pertumbuhan sastra.

Fiksi mini ataupun flash fiction ialah fiksi yang panjangnya lebih pendek dari cerpen. Tidak terdapat definisi kongkret, menimpa batas kepribadian yang didetetapkan. Para pengguna web, misalnya, menyepakati kalau fiksi mini ditulis tidak lebih dari seribu kata. Tetapi, dalam portal web spesial fiksi semacam Fiksiana Kompasiana( http:// fiksiana. kompasiana. com), fiksi mini dimengerti selaku sastra 7 menit, ialah fiksi yang habis dibaca cuma 7 menit. Tetapi, inovasi yang lain merupakan fiksi mini yang ditulis di dalam media sosial Twitter yang dibatasi cuma 140 kepribadian.

Tuduhan serta Pembelaan terhadap Sastra Cyber

Sebagaimana dipaparkan tadinya, kemunculan sastra cyber( selaku fenomena ataupun sebutan) memunculkan pro serta kontra, paling utama di dalam wacana kesusatraan Indonesia. Banyak sastrawan serta pakar sastra bereaksi atas hadirnya sastra cyber.

Tetapi, demikian apresiasi positif diberikan sastrawan lain. Di antara lain oleh Seno Gumira Ajidarman dalam pengantarnya di dalam novel antologi puisi cyber Bunga Matahari. Ia menyebut kalau prestasi sosialisasi sastra tercapai kala kesan sastra( selaku suatu) yang kurang gaul dihancurkan. Sastra jadi suatu yang tiap hari saja. Perihal ini merujuk pada sastra cyber yang sudah memecahkan

mitos kalau sastra merupakan suatu yang ekslusif serta bernilai adiluhung. Tidak hanya itu, Jamal D. Rahman, penyair yang pula redaktur majalah sastra Horison, menyebut kalau komunitas yang menyandarkan kegiatannya di dunia maya itu membuka mungkin untuk sosialisasi sastra lebih jauh selaku apresiasi positif terhadap sastra cyber.

Lebih jauh, sastrawan Saut Situmorang dalam esainya“ Krisis Kritik Sastra serta Sastra Cyber Indonesia” menyebut kalau lahirnya sastra cyber merupakan keniscayaan dalam sejarah sastra Indonesia. Gimana juga, pertumbuhan teknologi serta kemajuannya berikan pengaruh yang luar biasa dalam kebudayaan, tercantum sastra.

https://www.unair.ac.id


Post Views: 42


Leave a comment

Comments

Copyrights © 2017 All rights reserved