1 month ago, Posted by: artsas02

Dia yang Terlipat Dalam Sejarah

Sejarah republik ini sangat panjang. Ibarat buku, bisa puluhan, ratusan, bahkan ribuan lembar. Namun dari lembaran-lembaran itu ada halaman yang terlipat, atau lebih tepat sengaja dilipat. Lembar halaman itu bernama Datuk Ibrahim Tan Malaka. Ada kekhawatiran, jika lipatan itu terbuka bisa memicu rasa cemas juga was-was. Karena pada lembaran itu mengandung ‘racun’ merah.

Maka tidak heran, nama Tan Malaka tidak mengkilat seperti Bung Karno, Bung Hatta, atau Sutan Sjahrir. Tan Malaka tenggelam dalam gelombang sejarah. Kematiannya misterius. Tan sudah kenyang dengan penangkapan yang dilakukan agen interpol. Dia dijebloskan dari satu penjara ke penjara lainnya. Namun ironis, nyawanya justru direnggut ujung bedil tentara republik.
Tan Malaka bukan hanya sosok yang identik dengan dari penjara ke penjara. Memang itulah sosok Tan Malaka. Selalu dalam lingkar misteri dan kontroversi. Baik saat hidup maupun mati, baik berada dalam penjara maupun terbaring di pusara.

Tan Malaka atau Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka, lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, 2 Juni 1897 dan meninggal di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 21 Februari 1949 pada umur 51 tahun. Hari ini, 72 tahun yang lalu, Tan Malaka menutup mata.

Menariknya, separuh dari usia itu ia habiskan di luar negeri. Rinciannya, enam tahun belajar di negeri kincir angin Belanda, sedang 20 tahun dihabiskan menjadi pelarian politik. Predikat buron politik itu disandang sejak 1922. Dalam pelariannya, Tan Malaka menjelajahi tak kurang dari 21 tempat dari 11 negara dalam kondisi sakit-sakitan serta pengawasan ketat dari agen-agen interpol.

Satu Orang Banyak Nama

Selama itu pula, Tan menggunakan sejumlah nama samaran dan 13 alamat rahasia. Di Manila dia dikenal sebagai Elias Fuentes dan Estahislau Rivera. Sementara di Filipina bagian selatan, pria berdarah melayu ini dikenal dengan Hasan Gozali. Di Shanghai dan Amoy, Tan adalah Ossario, wartawan asal Filipina. Ketika masuk ke Burma, dia merubah namanya menjadi Oong Soong Lee, orang Cina kelahiran Hawai.

Sementara di Singapura saat menjadi guru bahasa Inggris di sekolah menengah atas, dia bernama Tan Hong Seng. Menjelang kemerdekaan Tan kembali ke Indonesia dan bekerja di sebuah pertambangan kawasan Bayah, Banten. Dia menyamar sebagai Ilyas Hussein.

Tan terlipat dalam sejarah bukan tanpa sebab. Itu semua tidak lepas kiprahnya dalam PKI (Partai Komunis Indonesia). Bahkan, pria asal Suliki ini pernah menjabat menjadi pucuk pimpinan PKI setelah Semaoen. Pupularitas Tan di partai komunis cepat melesat. Dia diangkat oleh komunis internasional sebagai pengawas untuk Indonesia, Malaya, Filipina, Thailand, Burma, dan Vietnam.

Akan tetapi Tan akhirnya tersingkir sesudah pemberontakan PKI 1926. Dia dituding sebagai biang kegagalan pemberontakan melawan kolonialisme Belanda itu. Dia dicap sebagai pengkhianat partai. Memang, dari awal Tan sudah tidak setuju dengan rencana pemberontakan tersebut. Bahkan dia berupaya mencegah aksi yang dirancang oleh kelompok Prambanan.
Kelompok Prambanan adalah para pentolan PKI masa itu. Di antaranya Semaun, Alimin, Musso, dan Darsono. Mereka merencanakan pemberontakan di Prambanan Solo, awal 1926. Namun respon Tan justru sebaliknya. Dia melempar sejumlah argumen agar pemberontakan tersebut digagalkan. Salah satu alasannya adalah kekuatan pergerakan belum matang.
Dengan kata lain, masih diperlukan pembenahan organisasi partai guna menggalang basis massa yang kuat dan meluas. Tan kemudian menyarankan agar para pemimpin PKI melakukan aksi ‘pemanasan’ dan agitasi di tempat masing-masing. Tan menyimpulkan jika pemberontakan itu tetap dilakukan maka akan berakhir blunder. Dengan kata lain, bisa menjadi bumerang terhadap partai komunis, bahkan organisasi pergerakan secara umum.

Analisa Tan tembus, namun Tan dituding sebagai Brutus. Pemberontakan 1926 gagal. Organisasi yang didirikan 1920 itu hancur. Para aktivisnya dijebloskan ke penjara dan dibuang ke Digul. Sejak itu Tan berpisah jalan dengan PKI. Dia kemudian mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) di perantauan Bangkok.

Bukan kali itu saja Tan menantang arus. Dalam Kongres Komunis International (Komintern) ke-4 di Moskow pada 1922, dia melontarkan gagasan mengejutkan. Tan menolak kebijakan Komintern yang cenderung mencurigai Pan Islamisme (kelompok Islam) sebagai pesaing di gerakan internasional. Justru sebaliknya, tokoh asal Hindia (Indonesia) ini menyarankan agar komunis menggandeng kelompok islam dalam mengusir penjajahan. Tan kemudian membeberkan berbagai argumen. Termasuk mencontohkan kondisi obyektif yang terjadi di Indonesia. Namun gagasan Tan bertepuk sebelah tangan.

Orientasi Tan melompat jauh ke depan. Betapa tidak, dia sudah menggagas konsep Republik Indonesia sejak 1925. Konsep itu tertuang dalam bukunya yang berjudul Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia). Tentu saja, konsep tersebut jauh lebih dulu ketimbang tulisan Mohammad Hatta berjudul Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) yang dibacakan sebagai pledoi di pengadilan Deen Haag pada 1928, dan Sukarno yang menulis ‘Indoensia Merdeka’ pada 1933.

Tan Malaka bercita-cita mewujudkan Indonesia yang terlahir dari revolusi. Semua tindakan kompromi dengan kaum kolonial Belanda tidak ada dalam kamus hidupnya. Hal itu pula yang memantik kekecewaan Tan terhadap Soekarno-Hatta. Ketika rakyat semangat mengangkat bambu runcing, dwi tunggal justru melakukan pendekatan berunding. Bagi Tan, meja perundingan hanya bisa dilakukan setelah ada pengakuan kemerdekaaan 100 persen dari Belanda. Oleh karena itu, Tan tetap mengobarkan perang gerilya.

Karena semangat anti-kompromi itu pula, hidup Tan berakhir tragis. Dia ditangkap bersama tumpukan buku-bukunya oleh sekelompok tentara. Pria lajang ini digiring dengan tangan terikat ke belakang, disekap di sebuah lumbung padi, kemudian ditembak mati. Ironisnya pelaku penembakan itu adalah tentara republik sendiri. Sejak itu nama Tan Malaka terlipat dari lembar sejarah. Hari ini, 72 tahun lalu, tokoh yang terlipat dalam sejarah itu menjemput ajal. 


Post Views: 47


Leave a comment

Comments

Copyrights © 2017 All rights reserved