3 months ago, Posted by: artsas02

Bangunan Cagar Budaya Jangan Sampai Musnah, Pengelolaan Harus Bijak

Pelestarian bangunan cagar budaya yang merupakan peninggalan kebudayaan masa lalu harus dijaga. Terutama di Surabaya yang mayoritas peradaban sejarah masa lalu masih terlihat ada.

Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) Prof Purnawan Basundoro mengatakan, ketika kemajuan zaman berdampak pada hilangnya peninggalan kebudayaan berupa cagar budaya. “Cagar budaya itu kan menyangkut gedung lama. Sifat dari orang Indonesia yang menginginkan hal-hal baru, maka kemudian gedung tersebut (gedung cagar budaya) dihancurkan,” katanya.
Lokasi bangunan cagar budaya yang strategis, menurut Purnawan, menjadi penyebab para investor menukarnya dengan bangunan baru. Padahal seharusnya bangunan cagar budaya dapat dijadikan penanda sejarah. "Misalnya kita mengaku bahwa umur Kota Surabaya sudah 728 tahun, tapi kita tidak memiliki bukti karena semua bangunan tua sudah dirobohkan,” jelasnya. 

Oleh karena itu, Purnawan menegaskan, pengelolaan kelestarian cagar budaya di tengah situasi yang terus berkembang dan aspek global yang menekan harus lebih arif dalam membuat berbagai kebijakan, agar tidak menjadi fatal. Itu bisa merugikan aspek-aspek yang nilainya bersifat jangka panjang. Bahkan menurutnya, justru aspek kebudayaan tersebut bisa ditawarkan kepada masyarakat global untuk memperlihatkan kekayaan kita dalam bentuk cagar budaya.

“Jadi justru ada namanya paradoks globalisasi. Di tengah globalisasi justru kan sekarang banyak negara menawarkan aspek-aspek kelokalan. Sehingga kita harus hati-hati, jangan sampai kemudian tawaran sesaat terkait dengan isu global itu akan menghancurkan kekayaan yang bersifat lokal,” tegasnya.

Seperti bangunan Gedung Singa yang terletak di kawasan Jembatan Merah yang akan dijual. Gedung milik perusahaan asuransi BUMN yang diarsiteki Hendrik Petrus Berlage, Bapak Arsitektur Modern dari Belanda itu merupakan bangunan cagar budaya bertipe A. Artinya tidak boleh diubah dalam kondisi apapun.

"Jadi bukan warisan untuk mereka yang kita beri dalam keadaan rongsokan misalnya. Justru ini adalah milik mereka yang harus kita rawat, sehingga kita bisa menghindari hal-hal yang meleset dari pengelolaan kebudayaan tidak terstandar (terawat)," ungkapnya.

Sementara itu Wakil Wali Kota Surabaya Armuji mengatakan, kepedulian tentang sejarah kota tua di Surabaya sangat banyak, terutama di kawasan Surabaya Utara. Oleh karena itu sangat penting untuk dibangkitkan kembali dan jangan sampai dilupakan. "Terutama dalam pelestarian bangunan cagar budaya. Jangan sampai gedung cagar budaya dijual atau tidak dirawat," katanya.

Armuji berharap ke depan di bawah kepemimpinannya bersama Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi akan tetap melestarikan bangun cagar budaya di Surabaya dan menjadikannya ikon Surabaya yang bisa 'dijual' untuk pariwisata. "Kalau di luar negeri gedung cagar budaya justru akan dirawat jadi obyek wisata," pungkasnya. (rmt/nur)


Post Views: 127


Leave a comment

Comments

Copyrights © 2017 All rights reserved