1 week ago, Posted by: artsas02

Tingginya Minat Bahasa Jawa di Amerika

Kemauan orang buat menekuni ataupun memakai bahasa Jawa di Amerika memanglah jauh lebih kecil dibandingkan atensi terhadap bahasa Indonesia yang ditawarkan di bermacam universitas selaku salah satu bahasa- bahasa modern.

Atensi yang lebih kecil ini pasti dapat dimaklumi mengingat Bahasa Jawa ialah salah satu dari banyak bahasa wilayah di Indonesia. Tetapi demikian, di negeri Paman Sam ini kerap ditemukan orang- orang yang berminat besar belajar bahasa Jawa dengan bermacam alibi. Mulai dari riset ilmiah hingga upaya melestarikan peninggalan leluhur.

Bahasa Jawa merupakan salah satu dari begitu banyak bahasa wilayah di Indonesia. Di Amerika terdapat sekelompok orang yang sangat berminat menekuni bahasa wilayah yang satu ini. Golongan yang tertarik pada biasanya berasal dari lembaga pembelajaran besar dengan tujuan riset ilmiah secara linguistik dari bahasa itu sendiri ataupun dari kelompok yang berminat menekuni karya sastra serta seni budaya Jawa. Tidak hanya itu, masyarakat generasi Jawa yang tinggal di Amerika pula mau mempertahankan bahasa bunda mereka dengan alibi mau melestarikan peninggalan leluhur.

Dokter. Thomas Conners merupakan masyarakat Amerika yang sempat mendalami bahasa Jawa. Ia saat ini berprofesi selaku direktur riset bahasa- bahasa serta budaya Timur Dekat, Asia Tengah serta Asia Selatan di Kementerian Luar Negara Amerika. Linguis bergelar Ph. D. dari Universitas Yale dengan disertasi tentang bahasa Jawa, spesialnya bahasa Jawa Tengger, ini sempat menetap di Jawa Timur serta Jakarta sepanjang dekat 10 tahun. Di Jawa Timur, ia tinggal di desa Ngadas di kawasan antara Gunung Bromo serta Gunung Semeru buat betul- betul mendalami bahasa Jawa serta budaya orang Tengger. Ia apalagi tidak segan- segan buat turut belajar selaku siswa di sekolah dasar setempat.

Dokter. Conners berkata kalau ia sangat tertarik dengan bahasa Jawa sebab bahasa ini ialah salah satu bahasa dengan jumlah penutur terbanyak dari rumpun bahasa- bahasa Austronesia yang meliputi seluruh bahasa yang terdapat di Indonesia, Filipina, pulau- pulau di Pasifik, hingga ke Madagaskar. Ia mencatat persebaran bahasa Astronesia itu luar biasa, serta di antara kira- kira 1000 bahasa dalam rumpun itu, Bahasa Jawa mempunyai jumlah penutur sangat banyak dengan sejarah tertulis sangat tua.

“ Indonesia merupakan negeri dengan jumlah bahasa yang kedua sangat besar di dunia. Di Indonesia terdapat bermacam berbagai bahasa namun yang terbanyak merupakan bahasa Jawa dengan bisa jadi 80/ 90 juta penutur. Indonesia itu semacam Laboratorium bahasa. Apa saja yang kita mau cermat ataupun mau kita tahu tentang bahasa itu terdapat di kepulauan Indonesia. Bahasa Jawa spesialnya mempunyai sebagian keunggulan, keunikan yang nyaris tidak bisa ditemukan dalam bahasa yang lain di mana juga di segala dunia, di mana terdapat dekat 7 ribu bahasa. Misalnya, cuma bahasa Jawa yang mempunyai tingkatan dengan sopan santun, dengan unggah- ungguh hingga sedetilnya semacam ngoko, madya, krama, tetapi pula terdapat krama inggil, krama andap serta pula bermacam variasinya,” katanya.

Selagi jadi mahasiswa S3, Thomas Conners belajar bahasa Indonesia di alma maternya, Universitas Yale, namun ia setelah itu terus menjadi tertarik buat menekuni bahasa Jawa sehabis mendatangi Indonesia serta tinggal bersama penduduk setempat di kawasan Bromo, Jawa Timur sepanjang satu minggu. Ia mengaku sangat terkesan dengan keramah- tamahan penduduk setempat.

“ Waktu aku di Tengger, di Bromo kebetulan belum terdapat banyak wisatawan serta aku sendirian bisa jadi satu minggu serta pernah bergabung sama masyarakat situ yang ramah sekali. Mereka baik sekali diajak ngomong serta nyatanya di sana masih terdapat sebagian orang yang masih belum dapat gunakan bahasa Indonesia, tetapi bahasa Jawa di sana pula berbeda dengan seluruh yang aku baca dalam novel. Seluruh tata bahasa, seluruh kamusnya yang bilang bahasa Jawa semacam ini, sesungguhnya itu bahasa Jawa yang terdapat di Jogja, Solo, wilayah Jawa Tengah. Jadi, aku mulai berpikir kalau bahasa Jawa sesungguhnya terdapat banyak alterasi yang sama sekali belum diteliti, belum didalami. Jadi, aku tertarik dengan suatu yang masih belum begitu didalami,” tambahnya.

Dokter. Conners berkata, lebih dari hanya selaku perlengkapan komunikasi, seluruh bahasa berarti sebab seluruh bahasa mencerminkan sejarah, budaya, kerutinan, adat istiadat kelompok penggunanya, yang pula dipengaruhi oleh ruang, waktu, area tercantum flora serta fauna yang berbeda- beda dari satu kelompok satu ke kelompok yang lain. Semacam bahasa apa juga, bahasa Jawa sangat berarti sebab terdapat bermacam ungkapan dalam bahasa Jawa yang lenyap arti serta nuansanya bila dinyatakan dalam bahasa lain.

Buat pelestarian bahasa, Dokter. Conners berkomentar butuh terdapatnya upaya buat membangkitkan rasa bangga dalam warga Jawa sendiri buat melestarikan bahasa Jawa.“ Orang Jawa pula dapat memakai bahasa Jawa dalam media sosial yang saat ini sangat luas dipakai di Indonesia, serta para pemangku kepentingan dalam pembelajaran di Jawa Tengah, Yogyakarta, serta Jawa Timur pula dapat memasukkannya selaku muatan lokal dalam kurikulum pembelajaran,” ucapnya.

“ Coba buat membangkitkan dalam rakyat sendiri supaya mereka dapat bangga serta mereka dapat memandang sendiri seberapa berarti bahasa itu, bahasa ibunya, bahasa nenek moyangnya buat dilestarikan. Jadi, sangat, sangat berarti,” tukasnya.

Nona Kurniani merupakan penggiat pelajaran bahasa Indonesia serta bahasa Jawa di Amerika yang menjabat selaku dosen bahasa Indonesia di Universitas Johns Hopkins. Ia pula mengajar bahasa Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia, Washington, D. C., dan jadi kepala sekolah bahasa Indonesia di Rumah Indonesia di bunda kota Amerika itu.

Di samping mengajar bahasa Indonesia, Nona pula aktif menggalakkan pemakaian bahasa Jawa serta mengajar mahasiswa yang berminat. Diwawancarai VOA, ia berkata kalau terdapat ketertarikan buat belajar bahasa Jawa di Amerika, meski tidak banyak. Semenjak tahun 2002 ia mengajar 12 mahasiswa Amerika yang menempuh zona riset ataupun riset tentang ataupun di Jawa Tengah serta Jawa Timur. Bidang riset para mahasiswa itu berbagai macam, tercantum etnomusikologi, antropologi, serta riset agama.

Tidak hanya itu, terdapat orang- orang yang belajar bahasa Jawa sebab ikatan generasi.“ Terdapat pula mahasiswa yang belajar bahasa Jawa sebab orang tuanya orang Jawa yang telah lama menetap di Amerika. Umumnya mereka telah mudah berbahasa Indonesia. Seluruh mahasiswa yang belajar bahasa Jawa pula sangat tertarik buat belajar aksara Jawa.”

Di sela- sela kesibukannya, Nona pula jadi sukarelawan buat kelas menulis aksara Jawa untuk para anggota Paguyuban Tiyang Jawi( PTJ) di Washington, D. C., serta sekitarnya.

“ Pelajaran menulis aksara Jawa buat Paguyuban Tiyang Jawi itu aku bagikan sebab terdapat beberapa anggota yang tertarik serta merasakan kemauan buat bernostalgia belajar aksara Jawa," jelasnya.

Nona berkata, dalam kelas aksara Jawa itu terdapat sebagian partisipan yang belum dapat berbahasa Jawa, salah seseorang di antara lain orang Amerika.

Ditemui secara terpisah, Maria Rosarioningrum yang menjabat selaku instruktur bahasa serta budaya Indonesia di Lembaga Dinas Luar Negara, Kementerian Luar Negara Amerika, serta sekalian jadi sukarelawan guru bahasa Indonesia di Rumah Indonesia di Washington, D. C. mengaku tetap memakai bahasa Jawa di rumah.

Ia sependapat dengan Dokter. Conners kalau bahasa Jawa mempunyai keunikan serta kekhasan yang sedapat bisa jadi dilestarikan.“ Bahasa Jawa itu adiluhung. Itu peninggalan leluhur yang mesti dibanggakan serta sangat butuh dilestarikan. Kami senantiasa berbahasa Jawa di rumah, sebab bahasa Jawa butuh“ diuri- uri,” sekalian buat berikan contoh kepada kanak- kanak. Siapa ketahui, perihal itu hendak membagikan semangat kepada mereka. Memanglah, saat ini mereka cuma paham secara pasif, namun siapa ketahui nanti bahasa nenek moyang mereka ini, dapat jadi suatu yang dirindukan.”

Selaku instruktur bahasa Inggris serta bahasa Indonesia, Maria berkata betapa bahasa Jawa mempunyai keunggulan serta kelebihan tertentu. Selaku penutur bahasa Jawa yang ialah bahasa ibunya, ia mengaku kerapkali terdapat ungkapan yang rasanya tidak cocok bila tidak dinyatakan dalam bahasa Jawa.

“ Yang aku rasakan, kerap kali terdapat nuansa serta nilai rasa yang tidak dapat diungkapkan dalam bahasa lain, kecuali dalam bahasa Jawa,” tambah Maria.

Dokter. Jozina Vander Klok merupakan masyarakat Amerika yang saat ini jadi periset pascadoktoral di Kementerian Linguistik serta Riset Skandinavia di University of Oslo, Norwegia. Selaku seseorang pakar bahasa serta pekerja lapangan, ia sempat melaksanakan riset tentang artikulasi lintas linguistik dari segi sintaksis serta semantik, dengan pengetahuan empiris dari bahasa Jawa. Ia melaksanakan riset lapangan di Indonesia semenjak 2010, dengan fokus pada keragaman bahasa yang digunakan di Yogyakarta, Semarang, serta Paciran di Jawa Timur.

Semacam dikatakan oleh Nona Kurniani tentang motivasi mahasiswa menekuni bahasa Jawa, Dokter. Jozina Vander Klok merasa tertarik buat belajar bahasa Jawa 14 tahun yang kemudian kala ia mulai menempuh riset program doktor dalam linguistik di Universitas McGill di Montreal, Di kampus itu pula ia mulai belajar Bahasa Jawa dari Dokter. Lathiful Khuluq, orang Jawa Timur yang lagi menempuh riset di Universitas McGill dalam bidang sosiologi.“ Aku t ertarik banyak dengan bahasa Jawa. Jadi, aku mau berangkat ke Indonesia, serta belajar terus di pulau Jawa,” ucap Jozina.

Bagaikan“ pucuk dicinta ulam datang,” Jozina kesimpulannya menemukan beasiswa tahun 2010- 2011 buat belajar bahasa Indonesia serta bahasa Jawa di Universitas Negara Yogyakarta( UNY). Sehabis kuliah di UNY, ia melanjutkan riset lapangan di desa Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Kala VOA menanyakan alibi kenapa Paciran, ia mengaku kalau itu merupakan kampung taman Dokter. Lathiful Khuluq.

“ Aku dapat ketemu keluarga ia, orang tua ia, di situ. Aku tinggal di desa Paciran nyaris 8 bulan, belajar bahasa Jawa. Itu pengalaman yang luar biasa serta mengasyikkan. Aku ketemu orang- orang yang terhormat, murah hati, ramah. Banyak orang di Paciran semacam keluargaku saat ini. Semenjak itu, aku bolak- balik ke Indonesia, meniliti bahasa Jawa dialek Paciran,” ucapnya.

Sekembalinya dari Paciran, Jozina melanjutkan belajar Bahasa Jawa dari orang Jawa yang lain, Dokter. Angkatan laut(AL) Kian yang kala itu menempuh riset lanjut di Universitas McGill. Baik Dokter. Lathiful Khuluq ataupun Dokter. Angkatan laut(AL) Kian saat ini jadi dosen di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Selaku linguis yang berspesialisasi pada riset sintaksis serta semantik, Jozina menyangka khasanah Bahasa Jawa sangat kaya serta luas sehingga sangat menarik dipelajari.

“ Bahasa Jawa itu sangat berarti buat linguistik sebab, awal, terdapat sejarah tertulis semenjak abad ke- 9. Terdapat bahasa Jawa kuno, yang sangat tua, terus semenjak abad ke- 16 bahasa Jawa baru ataupun modern. Kami dapat paham gimana bahasa Jawa tumbuh dalam keluarga bahasa Austronesia,” tukas Jozina.

Alibi yang lain, kata Jozina,“ Bahasa Jawa itu kaya dalam perbandingan dialek- dialek. Kami dapat paham tata bahasa dengan menekuni perbandingan dialek- dialek.”

Semacam kata Dokter. Thomas Conners serta Dokter. Jozina Vander Klok dan para ahli bahasa biasanya, meski cuma selaku bahasa wilayah, bahasa Jawa pantas dipelajari serta dilestarikan sebab bahasa ini mempunyai jumlah penutur terbanyak di Indonesia. Tidak hanya itu, bahasa Jawa diakui selaku salah satunya bahasa di Indonesia yang mempunyai sejarah sastra sepanjang 12 abad terus menerus. 


Post Views: 19


Leave a comment

Comments

Copyrights © 2017 All rights reserved