1 week ago, Posted by: artsas02

Menilik Jenis-Jenis Sastra Jawa

Sastra Jawa Kuno

Sebagian besar Sastra Jawa Kuno berupa kakawin( puisi) yang memakai metrum India, namun ada pula yang berupa parwa( prosa). Bahasa Jawa Kuno kerap diucap selaku Bahasa Kawi, hendak namun istilah Bahasa Kawi untuk Bahasa Jawa Kuno bukanlah pas. Bahasa Kawi cuma berarti bahasa para Kawi, ialah para penulis kakawin. Bahasa Jawa Kuno sesunguhnya tidak cuma digunakan dalam kakawin saja,

parwa pula memakai Bahasa Jawa Kuno sehingga istilah Bahasa Kawi kemudian jadi sangat kecil. Memanglah sempat terdapat pemakaian sebutan Bahasa Parwa, namun sebagaimana istilah Bahasa Kawi, istilah Bahasa Parwa pula sangat kecil, cuma mencakup sebagian saja, tidak mencakup seluruhnya.

Sastra Jawa Kuno hidup pada abad IX- XVII, ataupun pada masa kejayaan kerajaan- kerajaan Hindu Jawa, ialah semenjak Mataram Hindu hingga Majapahit. Sebagian karya besar era Jawa Kuno antara lain:

-

Ramayana karya Yogiswara

-

Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa

-

Hariwangsa karya Mpu Panuluh

-

Bharatayuddha karya Mpu Sedah serta Panuluh

-

Gatotkacasraya karya Mpu Panuluh

-

Krsnayana karya Mpu Panuluh

-

Smaradahana karya Mpu Dharmaja

-

Arjunawijaya karya Mpu Tantular

-

Sutasoma karya Mpu Tantular

-

Nagarakrtagama karya Mpu Prapanca

-

Lubdaka/ Siwaratrikalpa karya Mpu Tanakung( Zoetmulder, 1985: 453).

Contoh sastra Jawa Kuno:

Kitab Candha Karana, Kakawin Ramayana karya empu Yogiswara, kitab Budha

Mahayana Si Hyang Kamabayanikam, Kitab Brahmandapurana, Serat Mahabarata, uttarakanda, Adiparwa, Sabhaparwa, Wirataparwa, Udyogaparwa, Bhismaparwa, Asramawasaparwa, Mosalaparwa, Prasthanikaparwa, Swargarohana- parwa, Kunjarakarna.

·

Sastra Jawa Tengahan

Bahasa Jawa Tengahan digunakan dekat abad XVI, ataupun pada masa akhir Majapahit hingga dengan masuknya Islam ke Jawa. Karya Sastra Jawa Tengahan sebagian besar dalam wujud kidung( Puisi). Berbeda dengan kakawin yang memakai metrum India, kidung memakai metrum Jawa. Sebagian karya Kidung antara lain:

-

Kidung Harsawijaya

-

Kidung Ranggalawe

-

Kidung Sorandaka

-

Kidung Sunda

-

Wangbang Wideya

-

Sri Tanjung( Zoetmulder, 1985: 532)..

Contoh sastra Jawa Pertengahan:

Kitab Arjuna Wiwaha, Kakawin Kresnayana, Kakawin Sumanasantaka, Kakawin Smaradahana serta Kakawin Bhomakawya, Kakawin Bhatarayudha

karya, Hariwangsa, serta Gathotkacasraya, Kakawin Wrettasancaya serta Lubdhaka, Negeri Kertagama, Kakawin Arjunawijaya serta Kitab Sutasoma, Kitab Nawaruci

·

Sastra Jawa Baru

Pemakaian Bahasa Jawa Baru bermula semenjak masuknya Islam ke Jawa, serta terus menjadi tumbuh dikala kerajaan Demak berkuasa. Berbeda dengan sastra Jawa Kuno serta sastra Jawa Tengahan yang tidak menyisakan sastra lisan, Sastra Jawa Baru masih meninggalkan sastra dalam wujud lisan. Sastra Lisan mayoritas tumbuh dalam tradisi warga lokal bersama folklor setempat. Sastra Lisan ini kerap pula diucap selaku Cerita Rakyat.

Contoh karya sastra Jawa Baru:

Babad Dipenegoro I, Babad Diponegoro III, Bendhe Ki Becak, Serat Jatimurti, Serat Madurasa, Kasarasing batin, Wedharama Winardi,

serta artikel- artikel Ki Hajar Dewantara.

·

Sastra Jawa Modern

R. Ng. Ranggawarsita diketahui selaku pujangga terakhir Sastra Jawa. Sehabis kematiannya berkembanglah Sastra Jawa Modern. Kemunculan Sastra Jawa Modern bertepatan dengan timbulnya penerbit serta pesan khabar, semacam Penerbit Balai Pustaka( 1917), Pesan Khabar Bromartani( 1885), Pesan Khabar Retnodumilah( 1895), Pesan Khabar Budi Utomo( 1920) serta lain- lain.

Tokoh Sastra yang timbul pada masa ini merupakan Ki Padmosusastra, yang oleh Imam Supardi dijuluki“ Wong mardika kang kang marsudi kasusastran Jawa”( Suripan, 1975: 8). Ki Padmosusastra lebih banyak menulis prosa daripada puisi( tembang). Ki Padmosusastra pula menerbitkan karya- karya pujangga tadinya. Sebagian karyanya antara lain: Rangsang Tuban, Layang Madubasa, Serat Pathibasa.

Pada periode ini banyak karya berbentuk cerita ekspedisi, misalnya Cariyos Kekesahan Saking Tanah Jawi Dhateng Nagari Welandi tulisan RMA Suryasuparta. Ada pula karya terjemahan dari sastra dunia, semacam Dongeng Sewu Setunggal Dalu.

Sastra Jawa Modern periode 1920– 1945 seluruhnya didukung oleh penerbit Balai Pustaka, Majalah Panjebar Semangat. Novel pertama

diterbitkan tahun 1920 bertajuk Serat Riyanto tulisan RM Sulardi. Semenjak tahun 1935 crita sambung mulai tumbuh, dimulai oleh cerita bersambung karya Sri Susinah dengan judul“ Sandhal Jinjit Ing Sekaten Sala”( PS Nomor. 44 Tahun III, 2 Nov 1935). Disusul setelah itu dengan pertumbuhan crita cekak yang diawali oleh terbitnya karya Sambo yang bertajuk“ Netepi Kuwajiban”( PS Nomor. 45 Tahun III, 9 Nov 1935). Geguritan timbul agak belum lama, ialah bertajuk“ Dayaning Sastra” karya R. Intoyo dalam majalah Kejawen Nomor, 26 bertepatan pada 1 April 1941.

Semenjak dikala itu Sastra Jawa Modern terus tumbuh sampai dikala ini dengan didukung oleh ratusan pengarang yang masih setia.

·

Sastra Puisi Jawa Moderen

Selaku contoh di dasar ini tipe tembang macapat Dhandhanggula.

Song- song gora/ candraning hartati/

lir winidyan/ sarosing parasdya/

ringa- ringa/ pangriptane//

tan darbe/ labdeng kawruh/

angruruhi/ wenganing budi//

kang mirong/ ruhareng tyas/

njaga/ angkara nung//

memohon luwar/ ring duhkita/

aywa kongsi/ kewran lukiteng kinteki/

kang kata/ ginupita//

( Serat Cemporet karya R. Ng. Ranggawarsita)

Di dasar ini contoh tembang Pucung serta tembang Asmaradana.

Pucung.

Ngelmu iku kelakone kanthi laku

lekase lawan kas

tegese kas nyantosani

setya budya pangekese dur angkara

( Wedhatama III: 1, karya K. Gram. P. A. A Mangkunagara IV)

Asmaradana

Anjasmara ari mami

mas mirah kulaka warta

dasihmu tan wurung layon

aneng kutha Prabalingga

prang tandhing Urubisma

kariya mukti wong ayu

juga kakang pamit palastra


Post Views: 17


Leave a comment

Comments

Copyrights © 2017 All rights reserved