3 months ago, Posted by: artsas02

5 Fakta Bedug Pendowo Milik Masjid Agung Purworejo

Bedug Pandowo adalah bedug terbesar di dunia. Tak perlu jauh-jauh ke luar negeri, bedug raksasa itu berada di Kota Purworejo, Jawa Tengah, tepatnya di Masjid Agung Kauman yang berada di sebelah barat alun-alun Purworejo.

Memiliki nama asli Bedug Kyai Bagelan, masyarakat setempat lebih populer menyebutnya Bedug Pandowo. Bedug ini memiliki panjang 2,92 meter dengan diameter depan sepanjang 1,94 meter dan diameter belakang mencapai 1,8 meter.

Sementara itu permukaan bedugnya terbuat dari kulit banteng dan dibutuhkan lebih dari 200 paku untuk memakunya. Pembuatan bedug ini masih berkaitan erat dengan sejarah pembangunan Masjid Agung Purworejo.

“Ini awalnya untuk melengkapi Masjid Agung yang selesai dibangun pada tahun 1834. Cokronegoro I (Bupati Purworejo yang Pertama) punya ide untuk melengkapinya dengan bedug istimewa. Lalu oleh adiknya dipilihkan pangkal kayu jati di Pendowo, Kecamatan Purwodadi, Purworejo,” terang Ilhan.
Sejarah pembuatan Bedug Pandowo tak bisa dilepaskan dari sejarah pembangunan Masjid Agung Kauman Purworejo.

Dikutip dari Jatengprov.go.id, selesai Perang Diponegoro (1825-1830) Pemerintah Hindia Belanda mengangkat pemimpin dari kalangan pribumi untuk memerintah wilayah tanah Bagelan (wilayah Purworejo).

Pada saat itu, Belanda memilih Kanjeng Raden Tumenggung Cokronegoro I sebagai bupati. Pada masa itulah masjid mulai dibangun.

Setelah pembangunan selesai, Bupati Cokronegoro I memiliki gagasan untuk melengkapi bangunan masjid dengan sebuah bedug yang harus dibuat istimewa sehingga menjadi tanda peringatan di kemudian hari.
Karena keinginan sang Bupati, adiknya yang bernama Mas Tumenggung Prawironegoro Wedana Bragolan menyarankan agar bahan bedug terbuat dari pangkal pohon jati. Pohon jati itu diambil dari Dusun Pendowo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo.

Dari cerita yang diwariskan secara turun temurun, pohon-pohon jati yang berada di sana telah berusia ratusan tahun dengan ukuran batangnya yang besar-besar, bahkan ada beberapa yang bercabang lima.

Dalam ilmu kejawen, pohon-pohon jati bercabang lima itu disebut Pandowo dan mengandung sifat perkasa dan berwibawa.
Muncul persoalan baru setelah bedug selesai dibuat, yaitu bagaimana cara memindahkannya ke Masjid Agung dengan jarak 9 km dan kondisi jalan yang sangat sukar dilalui. Oleh karena itu Bupati Cokronegoro I mengangkat seorang kaum bernama Kyai Haji Muhammad Irsyad untuk memimpin proyek pemindahan itu.

Akhirnya, pemindahan bedug itu dilakukan oleh para pekerja dengan mengangkatnya secara beramai-ramai diiringi bunyi gamelan lengkap dengan penari tayub yang menanti di sepanjang pos pemberhentian. Setelah melalui perjalanan yang melelahkan, bedug terbesar di dunia itu tiba di Masjid Agung Purworejo.
Pada 3 Mei 1936, atau tepatnya setelah 102 tahun sejak pertama kali dibuat, bedug itu mengalami kerusakan. Pada awalnya, permukaan bedug itu dilapisi oleh kulit banteng.

Namun karena rusak, permukaan itu kemudian diganti dengan kulit sapi ongale dan sapi pamacek yang berasal dari Desa Winong, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo.  
Bedug Pandowo ditabuh tiap hari tepatnya pada saat waktu menjelang Salat Subuh, Ashar, Maghrib, dan Isya’. Selain itu bedug tersebut juga ditabuh pada saat menjelang Salat Idul Fitri dan Idul Adha, acara-acara keagamaan Islam.

Pada saat peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, bedug ini juga ditabuh sebagai bentuk penghormatan. 


Post Views: 119


Leave a comment

Comments

Copyrights © 2017 All rights reserved