2 months ago, Posted by: artsas02

Hilang Pertunjukan Seni Gambus Misri

Seperti yang dituturkan oleh budayawan Jombang, Nasrul Ilahi, Jombang memiliki masyarakat yang egaliter, banyak kebudayaan yang masuk di Jombang sebab letak geografis Jombang yang berada di tengah-tengah Jawa Timur adalah salah satu penyebabnya, namun masyarakat yang mendominasi adalah masyarakat abangan dan masyarakat ijoan. 

Pada tahun 1950-an Jombang mengalami perpecahan antara kaum abangan dan ijoan, yang pada akhirnya perpecahan ini menciptakan  anak kebudayaan baru yaitu gambus misri. 

Gambus Misri ini sebagai jembatan dari perpecahan tersebut, namun hari ini gambus misri ini mengalami vakum dan bahkan mengalami kematian selama beberapa dekade terakhir sebab kemajuan teknologi membawa kita pada lingkup dunia yang lain sekaligus kita sebagai negara dunia ketiga yang akan selalu dipengaruhi barat sebagai kiblatnya, yang pada akhirnya gambus misri kehilangan eksistensinya pada tahun 1980-an semenjak kemunculannya band-band barat yang merebak di Indonesia. Tulisan ini mencoba mengungkap kembali bagaimana awal dan kematian gambus misri sekaligus upaya mengangkatnya.

Sekilas tentang Gambus Misri
Nama Jombang sendiri telah disepakati oleh semua budayawan bahwa Jombang merupakan akronim dari “Ijo lan Abang” yang menjadi satu karakteristik Jombang sebagai satu tempat untuk berkembangnya dua kesenian yang bertolak belakang yaitu kebudayaan masyarakat berbau relijius dan kesenian berbau perjuangan. 

Walaupun berbanding terbalik, akan tetapi secara tidak sadar dua kebudayaan ini saling menguatkan. Adanya masyarakat yang egaliter inilah Jombang berhasil menciptakan atau mengaktualisasikan pemikiran kolektif masyarakat dengan munculnya kesenian-kesenian baru yang hanya ada di Jombang.

Jombang yang egaliter inilah yang menjadi pondasi terbentuknya anak kebudayaan yang baru, salah satunya adalah Gambus Misri ini. Walau kemunculan Gambus Misri ini tidak diketahui pasti awal kemunculannya, akan tetapi hal yang sangat pasti adalah Gambus Misri ini adalah sebagai media hiburan kaum pesantren di kala ludruk sudah diakusisi oleh kaum abangan dan berakhir menjadi alat bagi orang-orang LEKRA yang saat itu menjadi organisasi underbouw PKI.

“Ludruk lahir dari komunitas abangan, Gambus Misri lahir dari komunitas santri. Ludruk pakai musik dan gamelan Jawa Timur, Gambus Misri pakai musik Melayu setengah Arab. Ludruk mengambil lakon-lakon tradisional Jawa, Gambus Misri ambil tema-tema dari sejarah Islam,” dikutip dari caknun.com

Jika kita berbicara tentang seni pertunjukan zaman dahulu, maka terkadang kita harus cermat pada isi yang dibawakan seni pertunjukan tersebut. Dalam Gambus Misri sendiri memiliki beberapa step, mulai dari pembuka hingga akhir dari pertunjukan Gambus Misri ini. Mengutip dari seorang budayawan Jombang bernama Nasrul Ilahi dalam artikel Radar Jombang,

“Kalau gambus misri itu pertunjukan yang terdiri ludruk, ada beberapa step, dimulai dari lagu dan tari javin sebagai bagian pembuka, kemudian ada lawak dan biasa diakhiri dengan lakon yang berupa drama. Secara garis besar masih serupa dengan komedi stambul,”

Untuk lagu sendiri saat saya amati, ternyata lagu yang dibawakan selalu berbau Islam. Lagu pertama yang dibawakan untuk pembuka masuknya MC gambus misri sendiri adalah lagu instrumental yang diadaptasi dari lagu Amerika Latin berjudul “El Cumbanchero” yang ditulis oleh Rafael Hernandez dan pertama rilis lagu dinyanyikan oleh Marga Llergo dan Antonio Escobar pada tahun 1947. 

Lalu setelah itu dilanjut dengan lagu pembuka berjudul “Selamat Datang”, lalu dilanjut oleh lagu berjudul “Doa”, dan setelah itu dilanjut lagu-lagu islami seperti ciptaan A. Kadir, Nasida Ria bahkan Ummi Kulsum. Setelah lagu dibawakan maka selanjutnya adalah lawakan atau istilah modernnya “Stand Up Comedy”, dan dilanjut lagi dengan pementasan drama dengan lakon-lakon yang diambil dari cerita 1001 malam.

Kematian Gambus Misri
Kematian Gambus Misri jika saya analisa, disebabkan oleh modernisasi yang mulai merebak di seluruh lapisan masyarakat dan dimulai dengan kemunculan kaset pita di tahun 1970-an hingga 1990-an dan membawa lagu-lagu berasal dari barat maupun kemajuan industri musik di Indonesia sendiri.

Jika mengutip dari tulisan Nasrul Ilahi yang berjudul “Riwayat Gambus Misri”, kematian Gambus Misri disebabkan oleh modernisasi yang dibawa barat ke Indonesia. “Gambus Misri mengalami terus pasang surut lalu menjadi suram ketika mulai muncul lagu-lagu dangdut-rock yang dirintis Rhoma Irama. 

Unsur lawakan, tarian, dan ceritanya pelan-pelan tergusur. Gambus Misri tergantikan oleh konser musik dangdut-rock, laiknya konser musik Deep Purple, Led Zeppelin, dan musik ala India maupun lainnya yang nuansa musiknya banyak mempengaruhi Raja dangdut tersebut. Lagu-lagu Mansyur S dan lainnya yang masih bernuansa Indonesia tidak mampu mengangkat Gambus Misri dari keterpinggirannya.”

Hal tersebut diamini oleh Mbah Mudjib, salah seorang mantan penyanyi gambus Misri As-Sulthon pada buletin De Soekodono dan menambahkan “Pada tahun 1980-an, As-Sulthon pernah mencoba mengembalikan eksistensi gambus misri As-Sulthon kembali setelah beberapa tahun mati tanpa kejelasan, dengan nama As-Sulthon Muda, akan tetapi hal itu tak berlangsung lama dan mati kembali”

Para Pelaku, Saksi dan Pegiat Gambus Misri Berbicara
Saya telah mencoba melakukan penelitian ini lewat pendekatan pada beberapa narasumber. Narasumber tersebut adalah Pak Saiman Abdullah (seorang pemimpin “Gambus Misri Bintang Sembilan”, Kedungsari, Sumobito), Mbah Mudjib (mantan penyanyi “Gambus Misri As-Sulthon”, Mancilan, Mojoagung), Pak Nasrul Ilahi (saksi sekaligus budayawan Jombang), Cak Purwanto (salah satu penggerak milenial Jombang), Pak Agung Priyo Wibowo (seorang Aktivis Kebudayaan) yang saya perlukan dalam analisa ini, bahwasanya semua narasumber ingin menghidupi kembali kesenian yang sudah terkikis oleh modernisasi ini. Mengapa begitu? Sebab-sebab yang dilontarkan oleh para narasumber beragam, di antaranya:

Kesenian Gambus Misri ini juga senada dengan niat saya untuk berdakwah. Lantaran kisahnya banyak menyampaikan kebaikan laiknya dalam ajaran Agama Islam.
Gambus Misri ini menjadi pemberi warna dalam ragam kebudayaan masyarakat Jombang yang heterogen.
Usia tua akan memakan ingatan kami, dan nantinya jika tidak ada yang mengulas kesenian ini atau bergerak membangkitkan kembali gambus misri
Gambus misri  ini adalah pemikiran kolektif masyarakat sekitar pesantren yang harus tetap dilestarikan karena di modern ini kita juga butuh refleksi kepada masa lampau.
Kita hari ini dihadapkan pada masyarakat yang memercayai dunia maya sebagai kebenaran kongkrit dan mulai melupakan jati diri mereka masing-masing.
Setelah mendengar keinginan para pelakunya, kita dapat menyimpulkan bahwa krisis kesenian merebak ke seluruh Jombang, padahal menurut penelitian untuk pembukuan PPKD (Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah) yang baru dirancang pada tahun 2019, Jombang memiliki banyak sekali kesenian yang hampir punah termasuk juga Gambus Misri, jika melihat tahun keemasan Gambus Misri (sekiranya antara tahun 60-70 an) tiap kecamatan memiliki satu kelompok Gambus Misri, dan saat itu yang paling Berjaya adalah kelompok gambus misri “Mawar Bersemi”. Namun hari ini tidak ada lagi Gambus Misri dan hari ini dihidupkan lagi kelompok Gambus Misri “Bintang Sembilan” Dusun Kedungsari, Sumobito.

Perjalanan Membangun Kembali Gambus Misri
Membangun kesenian yang sudah punah memang pekerjaan yang sangat sulit, sebab keterbatasan sumber yang membuat kesulitan. Pada tahun 2018, salah satu organisasi masyarakat bernama AirKita mencoba untuk membangun kembali Gambus Misri, mereka membangun kembali Gambus Misri selama 8 bulan hanya untuk risetnya, dan perjalanannya pun tidak mudah dan gampang diterima masyarakat. 

Menurut Purwanto sebagai salah satu penggeraknya “Orang Kedungsari awalnya sangat cuek terhadap kami, sebab mereka (orang Kedungsari) menganggap kami sebagai organisasi-organisasi lain yang hanya memanfaatkan mereka sebagai objek dan terkadang tidak memiliki output yang berdampak bagi masyarakat Kedungsari sendiri”. Memang jika berbicara tentang pendekatan pada masyarakat, kita harus bisa menempatkan mereka sebagai pelaku atau subjek, bukan hanya objek.

Perjalanan kawan-kawan AirKita sangat berliku-liku dalam mencari sumber dan datanya. 

“Saya tidak menyangka jika banyak yang terjadi dalam permasalahan mencari sumber, awalnya kita diremehkan masyarakat, lalu setelah masyarakat Kedungsari menerima kita, para narasumbernya sangat memprihatinkan, yang paling saya ingat adalah ada narasumber yang jika ditanya tentang gambus misri itu langsung nangis tanpa sebab, namun setelah gambus misri terbentuk agak kuat, beliau sangat senang dan selalu menyanyikan lagu selamat datang atau bisa disebut lagu pembuka Gambus Misri,” ucap Agung Priyo Wibowo sebagai salah satu penggerak kebangkitan Gambus Misri Bintang Sembilan.

Pada tanggal 5-6 Oktober 2019 Gambus Misri Bintang Sembilan dengan membawa lakon “Sokhabat Bilal” naik panggung pertama kalinya setelah mengalami mati suri selama beberapa dekade dalam pagelaran “Kenduri Seni Wayang Beber Indonesia” di Kedungsari, Sumobito, Jombang. 
Lalu pentas yang kedua dilaksanakan pada Festival Sholawatan Air Hujan 2019, dan yang ketiga dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur di Café Panggung pada 27 Oktober 2020 kemarin.

Penulis: Alfian Widi Santoso 


Post Views: 79


Leave a comment

Comments

Copyrights © 2017 All rights reserved