1 year ago, Posted by: artsas02

Karya-Karya Sastra Angkatan 60

              Periode sastra ini berkisar antara tahun 1960-1970an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horison yang dipimpin oleh Mochtar Lubis. Pada tahun ini karya sastra lebih beraliran surealistik arus kesadaran arketip dan absurd. Beberapa sastrawan pada angkatan ini ialah seperti Umar Kayam, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Taufiq Ismail, dan banyak lainnya. Berikut beberapa karya dari sastrawan angkatan 60-70an:

1. Hujan Bulan Juni ( Sapardi Djoko Damono)

Sebuah kumpulan puisi karya Sapardi Djoko Damono yang diterbitkan pada tahun 1994. Memuat 102 karya puisi yang ditulis sejak tahun 1964 sampai 1994. Hujan Bulan Juni sudah diterjemahkan daklam berbagai bahasa seperti bahasa Inggris, Jepang, Arab, dan Mandarin. Salah satu puisinya yang terdapat  kumpulan puisi tersebut ialah puisi berjudul Hujan Bulan Juni:

Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah

Dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

Kepada pohon berbunga itu

 

Tak ada yang lebih bijak

Dari hujan bulan Juni

Dihapusnya jejak-jejak kakinya

Yang ragu-ragu di jalan itu

 

Tak ada yang lebih arif

Dari hujan bulan Juni

Dibiarkannya yang tak terucapkan

Diserap akan pohon bunga itu.

(1989)

2. Para Priyayi (Umar Kayam)

            Novel ini karya Umar Kayam yang diterbitkan pada tahun 1992 bercerita tentang seorang bernama Soedarsono seorang anak dari keluarga buruh tani yang diharapkan orang tuanya dapat menjadi “sang pemula” untuk membangun dinasti keluarga priyayo kecil. Berkat dorongan dari Asisten Wedana Ndoro ia kemudian dapat bersekolah dan menjadi guru desa. Sejak saat inilah ia memasuki dunia birokrasi priyayi. Novel ini berlatar belakang kehidupan sang priyayi di Jawa.

 

3. Pada Sebuah Pantai : Interlude

Diterbitkan pada tahun 1973

Semua ini hanya terjadi dalam sebuah sajak yang
sentimentil. Yakni ketika pasang berakhir, dan aku
menggerutu, “masih tersisa harum lehermu”; dan kau tak
menyahutku.

Di pantai, tepi memang tinggal terumbu,
hijau (mungkin kelabu).
Angin amis. Dan
di laut susut itu, aku tahu,
tak ada lagi jejakmu.

Berarti pagi telah mengantar kau kembali, pulang dari
sebuah dongeng tentang jin yang memperkosa putri yang
semalam mungkin kubayangkan untukmu, tanpa tercatat,
meskipun pada pasir gelap.

Bukankah matahari telah bersalin dan
melahirkan kenyataan yang agak lain?
Dan sebuah jadwal lain?
Dan sebuah ranjang & ruang rutin, yang
setia, seperti sebuah gambar keluarga
(di mana kita, berdua, tak pernah ada)?

Tidak aneh.
Tidak ada janji
pada pantai
yang kini tawar
tanpa ombak
(atau cinta yang bengal).

Aku pun ingin berkemas untuk kenyataan-kenyataan,
berberes dalam sebuah garis, dan berkata: “Mungkin tak ada
dosa, tapi ada yang percuma saja.”

Tapi semua ini terjadi dalam sebuah sajak yang
sentimentil. Dan itulah soalnya.

Di mana ada keluh ketika dari pohon itu
mumbang jatuh seperti nyiur jatuh dan
ketika kini tinggal panas & pasir yang
bersetubuh.

Di mana perasaan-perasaan memilih artinya sendiri,
di mana mengentara bekas dalam hati dan kalimat-
kalimat biasa berlarat-larat (setelah semacam
affair singkat), dan kita menelan ludah sembari
berkata: “Wah, apa daya.”

Barangkali kita memang tak teramat berbakat untuk
menertibkan diri dan hal ihwal dalam soal seperti ini.

Lagi pula dalam sebuah sajak yang sentimentil hanya ada satu
dalil: biarkan akal yang angker itu mencibir!

Meskipun alam makin praktis dan orang-orang telah
memberi tanda DILARANG NANGIS.

Meskipun pada suatu waktu, kau tak akan lagi datang
padaku.

Kita memang bersandar pada apa yang mungkin kekal,
mungkin pula tak kekal.
Kita memang bersandar pada mungkin.
Kita bersandar pada angin

Dan tak pernah bertanya: untuk apa?
Tidak semua, memang, bisa ditanya untuk apa.

Barangkali saja kita masih mencoba memberi harga
pada sesuatu yang sia-sia. Sebab kersik pada karang, lumut
pada lokan, mungkin akan tetap juga di sana – apa pun
maknanya.

1973

 

Sumber: Wikipedia, goodreads

 


Post Views: 731


Leave a comment

Comments

Copyrights © 2017 All rights reserved