6 months ago, Posted by: artsas02

Karya-Karya Sastra Angkatan 50

               Karya-karya sastra pada angkatan 1950-1960-an ini lebih berkonsep pada sastra realism-sosialis. Pada tahun ini para sastrawan mayoritas dihubungkan dengan bergabungnya dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Setelah itu timbullah perpecahan dan polemik yang berkempanjangan di antara kalangan sastrawan di Indonesia pada tahun awal 60an. Angkatan 50 ini juga ditandai dengan terbitnya majalah sastra kisah asuhan HB Jassin. Pada angkatan ini lebih ditandai dengan dominasi karya dnegan kumpulan cerita pendek maupun kumpulan puisi.  Beberapa karya sastra sastrawan pada tahun ini cukup masih sangat populer saat ini seperti Pramoedya Ananta Toer, Nh Dini, Mochtar Lubis dan lain sebagainya. Beberapa karya berikut beserta synopsis singkat.

1. Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer)

Bumi manusia termasuk dalam kategori tetralogi pulau buru yang ditulis Pram pada sekitar tahun 1980an diterbitkan oleh Hasta Mitra. Buku ini ditulis saat ini ditahan di pulau Buru. Buku ini menceritakan tentang perjalanan tokoh utama bernama Minke. Minke merupakan seorang pribumi yang pandai dan sangat pandai menulis. Tak hanya minke, buku ini juga menceritakan tentang tokoh Nyai Ontosoroh. Melalui buku ini Pram menggambarkan keadaan pemerintahan kolonialisme Belanda.  Buku ini juga pada tahun 2019 diadaptasi oleh sutradara Hanung Bramantio sebagai film yang menarik.

2. Tak Ada Esok (Mochtar Lubis)

Tak ada esok merupakan karangan sastrawan Mochtar Lubis ia menulisnya dan mulai terbit pada tahun 1950-an. Novel ini bercerita tentang perjuangan seorang tokoh Johan ketika masa  penjajahan Jepang, masa kemerdekaan dan paska kemerdekaan.

 

3. Simphoni (Subagio Sastrowardoyo)

Merupakan sebuah kumpulan sajak sastrawan Subagio Sastrowardoyo pada tahun 1957. Kemudian ia menciptakan karyanya selanjutnya yaitu Simfoni dua pada tahun 89 berjumlah 49 puisi.  Berikut salah satu sajaknya berjudul ‘Sajak’.

SAJAK

 

Apakah arti sajak ini

Kalau anak semalam batuk-batuk,

bau vicks dan kayuputih

melekat di kelambu.

Kalau istri terus mengeluh

tentang kurang tidur, tentang

gajiku yang tekor buat

bayar dokter, bujang dan makan sehari.

Kalau terbayang pantalon

sudah sebulan sobek tak terjahit.

Apakah arti sajak ini

Kalau saban malam aku lama terbangun:

Hidup ini makin mengikat dan mengurung.

Apakah arti sajak ini:

Piaraan anggerek tricolor di rumah atau

pelarian kecut ke hari akhir?

 

Ah, sajak ini,

mengingatkan aku kepada langit dan mega.

Sajak ini mengingatkan kepada kisah dan keabadian.

Sajak ini melupakan aku kepada pisau dan tali.

Sajak ini melupakan kepada bunuh diri.

 

 

Sumber: Wikipedia.org, achmadadieb.wordpress.com, kepadapuisi.blogpsot.com 


Post Views: 103


Leave a comment

Comments

Copyrights © 2017 All rights reserved