1 year ago, Posted by: artsas02

Puisi F Aziz Manna

F Aziz Manna merupakan salah satu sastrawan asal Surabaya. Ia lahir di Sidoarjo, Jawa Timur 8 Desember 1978. Menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga. Ia menggeluti dunia sastra mulai sekolah menengah. Aziz pun pernah menjabat sebagai ketua teater gapus Surabaya dan aktivis Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) juga tergabung dalam Sanggar Kopi dan Rokok Surabaya. Salah satu karyanya kumpulan puisi berjudul Playon yang menjadi pemenang sayembara penulisan Dewan Kesenian Jawa Timur pada tahun 2015.

Beberapa puisi beliau berikut ini:

KOTA YANG BUNUH DIRI

mal-mal dibangun di bawah reruntuhan kampung, real estate dan

apartemen menancap dalam pecahan batu nisan, kota kami tumbuh

melebihi kemampuan kami, membuat tembok-temboknya sendiri,

seperti kekasih yang menyimpan foto orang lain, kami di pinggiran

bukan karena tak diinginkan tapi kota tak lagi punya titik tengah:

ruang yang seharusnya dihuni-penuhi sejarah pikiran, hanya

berkubang otot dan kemaluan, bulan lebih cantik dari neon dan

mercury, listrik memalsukan tubuhmu, membuat elektronika lebih

dipercaya dari perbenturan kepala, kota kami tumbuh di luar impian

kami seperti peta yang menghapus dirinya sendiri

 

KAU BILANG, KATAMU

/1/

kau bilang tak ada lagi puisi, kau bilang kata telah dikekang, dijerat

dianyam jadi barang kerajinan, kau bilang bahasa hanya seorang

tawanan dank au bilang tak ada yang menarik lagi pada puisi, kau

bilang puisi yang lahir dari bibir si mahir, si lihai, si ahli, si tukang

jahit hanya menawarkan baju dari potongan kain perca, baju-

baju yang hanya pantas bagi tubuh langsing manekin, kau bilang

bukan tubuh manusia, bukan tubuh kita, kau bilang

 

/2/

membeli buku puisi kini, katamu, seperti mengumpulkan kertas

bekas, katamu, membacanya seperti berjalan dalam plasa

tanpa uang, katamu, hanya membuat capek dan mual, katamu,

seperti ditipu gadis ayu, katamu, yang mengaku perawan tapi

dadanya penuh cupang, katamu, seperti pendoa yang

ditinggalkan pendengarnya, katamu, sepertinya tak perlu lagi

puisi, katamu, sebab tak ada lagi obat dalam puisi, katamu,

sebab kata telah lenyap dari kertasnya, katamu, sebab kertas

jadi topeng bahasa, katamu, topeng kertas bahasa yang

menutupi kata, katamu

 

TAMAN KETABANG

di taman ketabang, kita bercakap tentang hari-hari yang lewat

sementara orang-orang di sekitar semakin erat berpelukan atau

khusyu’ mananti kambangan kail bergerak digondol ikan, kita

mengurai waktu di antara orang-orang yang berusaha keras

menangkap waktu, mengabadikannya dalam kekinian, kita

melompat dari kemarin ke kemarinnya lagi, mengeker-eker

kubang kenangan, ada jam dimana kita bertengkar tentang

cat rumah yang nampak muram, ada juga detik ketika kita saling

tersenyum membayangkan anak-anak kita tumbuh menjadi

orang-orang berdasi dan bekursi, namun sebelum tuntas

segala yang melintas di atas kepala dan percakapan kita, kau

tiba-tiba berkata: meski banyak orang dan pohonan di taman

ini, meski banyak impian dan harapan berlompatan, namun

entah mengapa aku merasa sendiri, sepi dan sunyi, kau tahu,

cuaca di tempatku, beberapa waktu ini dilikut kabut, seperti

hatiku, beberapa cermin yang terpasang di kamar enggan

memantulkan bayangan, bahkan, kertas-kertas yang biasa

kutulisi puisi, lembab, tak mau terbuka lagi, seperti pikiranku,

sampaikan maafku pada anakmu ketika ia memejamkan mata,

atas malam-malam panjang yang hilang darinya, karena kau

sedang mendendang kidung tidur buatku, tapi percayalah, tiap

linang air mataku adalah sebuah rindu padamu, meski aku tahu,

aku telah kehilanganmu sejak awal pertemuan

 

Sumber: jendelasastra.com, Wikipedia.com, fazizmanna.blogspot.com

 

 


Post Views: 182


Leave a comment

Comments

Copyrights © 2017 All rights reserved