11 months ago, Posted by: gamstra

Resensi Buku Sejarah Tuhan Karya Karen Amstrong

RESENSI BUKU

 

Sejarah Tuhan merupakan buku yang menarik untuk ditambahkan dalam koleksi buku semua orang karena topiknya yang universal. Buku ini memberi pengetahuan menarik tentang perkembangan konsep Tuhan dalam pemikiran berbagai kebudayaan sepanjang sejarah. Penggambaran sejarah Tuhan didukung oleh berbagai fakta, mitos, dan legenda dalam sejarah manusia sehingga topik yang terlihat berat ini menjadi menarik untuk dibaca. Pemaparan tentang sejarah Tuhan ini akan membuat pembaca merenungkan cara-cara manusia, termasuk pembaca sendiri, dalam memandang suatu entitas yang disebut Tuhan. Penulis buku ini, Karen Armstrong, memberi contoh dari berbagai kebudayaan di dunia dan mengaitkannya dalam satu tema besar, yaitu pencarian manusia akan Tuhan yang ideal dan sesuai kebutuhan masing-masing zaman. 

Sejarah Tuhan menyajikan berbagai peristiwa dalam sejarah kehidupan manusia sebagai bagian dari evolusi pandangan manusia terhadap suatu kekuasaan tertinggi yang disebut Tuhan. Misalnya, pergantian kepercayaan akan satu Tuhan pada masa purba awal ke kepercayaan pagan yang memiliki banyak Tuhan menyerupai manusia dijelaskan sebagai keinginan untuk menjangkau Tuhan-Tuhan baru yang lebih dekat dengan manusia dibandingkan satu Tuhan Mahakuasa, tetapi berada jauh di luar jangkauan manusia. 

Buku ini menjelaskan bagaimana manusia sebenarnya memiliki naluri alamiah untuk berdekatan dengan yang gaib; entitas tertinggi dari yang gaib bagi manusia adalah Tuhan. Hal ini diceritakan secara kronologis sejak berkembangnya monoteisme purba menjadi politeisme pagan di seluruh dunia. Ada pula pendapat menarik tentang bagaimana Tuhan tiga agama monoteisme besar (Yahudi, Kristen, Islam) diimplementasikan oleh bangsa

India menjadi dewa-dewa Hindu dan Budha, juga kaitannya dengan kepercayaan akan nirwana pada agama Budha. Di samping itu, juga diceritakan bagaimana perkembangan kebudayaan pagan yang penuh mitos dan ritual akhirnya membawa manusia kembali pada monoteisme yang dipandang lebih rasional. Lebih jauh lagi, perkembangan akal manusia saat ini justru memunculkan keraguan akan eksistensi Tuhan dan peranannya dalam kehidupan masyarakat modern. 

Armstrong banyak mencantumkan naskah-naskah kuno, seperti Enuma Elish yang merupakan kitab bagi kepercayaan Babilonia Kuno sampai Al Quran, untuk menggambarkan dasar pemikiran manusia mengenai Tuhan pada setiap kepercayaan. Kutipan-kutipan ini menunjukkan bahwa dasar pemikiran penulis didukung oleh bukti-bukti yang dapat dipercaya, di samping memberi pengetahuan lebih bagi para pembaca. Buku ini dilengkapi dengan lampiran sumber masing-masing kutipan yang digunakan dalam buku dan juga daftar buku yang disarankan untuk dibaca selanjutnya bagi pembaca yang ingin mendalami lebih lanjut tentang sejarah agama dan kaitannya dengan perkembangan budaya manusia. 

Kelebihan lain buku ini adalah jika umunmnya buku tentang ketuhanan rentan terhadap bias keyakinan si penulis, buku ini terbilang netral dan objektif dalam membicarakan setiap agama dan kepercayaan yang pernah ada. Hal ini menjadi nilai tambah mengingat Armstrong besar dalam lingkungan Katolik Roma dan pernah menjadi biarawati. Dalam menuliskan pandangan-pandangannya, Karen Armstrong, berusaha tidak mengeluarkan pendapat pribadinya mengenai kepercayaan tertentu secara langsung. Penulis hanya mengeluarkan pendapatnya mengenai anggapan manusia mengenai Tuhan dari zaman ke zaman. 

Sayangnya, buku ini banyak memakai istilah-istilah yang jarang diketahui masyarakat awam, terutama istilah keagamaan. Meskipun buku ini dilengkapi glosarium, pembaca yang umumnya tidak akrab dengan istilahistilah dari berbagai agama dan tidak memiliki dasar pengetahuan mengenai sejarah akan mengalami sedikit kesulitan dalam mengikuti isi buku.    

Pada akhirnya, buku ini dapat menjadi awal yang baik dalam mempelajari perkembangan agama dan keyakinan di dunia meskipun dalam membacanya perlu perhatian dan usaha lebih untuk memahaminya. Dengan mempelajari sejarah tentang Tuhan, kita dapat menarik beberapa pelajaran untuk menjawab kebutuhan masyarakat modern akan Tuhan seperti yang ditekankan oleh Armstrong. Hal ini mungkin merupakan satu-satunya pendapat pribadi Armstrong yang tersamar dalam seluruh isi buku, bahwa kebutuhan akan Tuhan merupakan naluri alamiah bagi tiap manusia dan dengan-Nyalah manusia dapat menjadi manusia seutuhnya.

 

source : Atsarina Larasati Anindya - Jurnal Sosioteknologi Edisi 24 Tahun 10, Desember 2011


Post Views: 372


Leave a comment

Comments

Copyrights © 2017 All rights reserved