10 months ago, Posted by: gamstra

Ludruk, Contoh Budaya Jawa Timur

Ludruk merupakan salah satu contoh budaya dari Jawa Timur.

Kata ludruk berasal dari bahasa Jawa tingkat ngoko di daerah Jawa Timur yang berati badut. Ludruk memiliki makna etimologis yang diperoleh dari berbagai informasi yang relevan. Istilah ludruk diperoleh dari tokoh-tokoh seniman dan budayawan ludruk. Secara etimologis, kata ludruk berasal dari kata molo-molo dan gedrak-gedruk. Molo-molo berarti mulutnya penuh dengan tembakau sugi (dan kata “molo”, adalah suatu kegiatan pada saat berbicara masih ada tembakau sugi didalam mulut pembicara), kegiatan tersebut seolah-olah hendak ingin dimuntahkan, dan setelah itu keluarlah kata-kata kidungan dan berdialog. Sedangkan gedrak-gedruk berarti kakinya menghentak-hentak pada saat menari di pentas.

 

Aktifitas seni yang populer disebut ludruk memiliki ciri khas pementasan yang unik. Dunia seni, kesenian ludruk memiliki ciri pementasan seperti seni pertunjukan drama atau teater secara umum. Gerak/lakuan/aktifitas pemain yang dapat disaksikan pada saat pementasan ludruk bukan hanya dilakukan pada saat pentas cerita berlangsung, tetapi juga pada saat kidungan sebelum pertunjukan cerita dimulai. Kidungan menjadi daya tarik dan tugas utama bagi seorang pemain ludruk.

 

Ludruk sebagai produk budaya lokal merupakan seni pertunjukan yang khas bagi rakyat Jawa Timur. Ludruk mempunyai karateristik yang tidak ditemukan dalam seni tradisional lain. Menurut Sedyawati bahwa ludruk sebagai drama tradisional memiliki ciri khas antara lain (1) Pertunjukan Ludruk dilakukan secara improvisatoris, tanpa persiapan naskah; (2) Memiliki Pakem/konvensi; (a) Terdapat pemeran wanita yang diperankan oleh laki-laki; (b) Memiliki lagu khas, berupa kidungan Jula-juli; (c) Iringan musik berupa gamelan berlaras slendro dan pelog; (d) Pertunjukan dibuka dengan tari ngremo; (e) Terdapat adegan bedayan; (f) terdapat sajian/adegan lawak/dagelan; (g) terdapat selingan travesti; (h) Lakon diambil dari cerita rakyat, cerita sejarah dan kehidupan sehari-hari; (I) Terdapat kidungan, baik kidungan tari ngremo, kidungan bedayan, kidungan lawak, dan kidungan adegan.

 

Di Jawa Timur khususnya di wilayah Surabaya banyak seniman-seniman ludruk yang terkenal baik sebelum kemerdekaan maupun setelah kemerdekaan (1945-sekarang). Sebelum kemerdekaan dikenal seorang tokoh ludruk yang sampai hari ini namanya tetap diabadikan karena keberaniannya dalam membawakan syair-syair (parikan) dan kidungan dalam pertunjukan ludruk yang mengkritik pemerintahan Jepang yang sedang menjajah dan berkuasa di Indonesia pada saat itu yaitu Cak Gondo Durasim. Taman Budaya Cak Durasim di Surabaya adalah nama yang diambil dari tokoh ludruk tersebut. Sezaman dengan masa perjuangan Dokter Soetomo di bidang politik yang mendirikan Parindra (Partai Indonesia Raya) pada tahun 1933, seniman ludruk, Durasim, telah mendirikan perkumpulan Ludruk Organisatie (LO).

 

Sumber: Rahayu, F., Alrianingrum, S. 2014. Perkembangan Seni Pertunjukan Ludruk di Surabaya Tahun 1980-1995. Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya. AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah Volume 2, No. 2


Post Views: 316


Leave a comment

Comments

Copyrights © 2017 All rights reserved