2 years ago, Posted by: gamstra

Gerakan Literasi Sekolah Di Surabaya

Kota Surabaya mulai membuat gerakan literasi di sekolah-sekolah yang ada. Seperti yang dikutip dari Tribun News Surabaya, salah satu sekolah yang menggerakkan budaya literasi adalah SMAN 21. Setiap kegiatan yang dilakukan di SMAN 21 harus menonjolkan budaya literasi. Seperti “Festival Literasi Slekor” yang mendatangkan berbagai sastrawan, Selasa (1/11/2016).

Kegiatan ini diisi dengan lomba cerpen hingga teater, selain itu setiap kelas juga memamerkan taman baca kelas. Yaitu sudut rak buku yang didekorasi sesuai tema yang diambil tiap kelas. Hal ini dilakukan agar siswa dibkelas semangat untuk membaca buku setiap harinya.

Ketua Taman Baca XII IPS 2, Devia Rahmawati mengungkapkan taman baca di kelasnya di desain menghadap pintu masuk. Tujuannya, bisa menarik minat siswa setiap memasuki kelas sehingga dapat memilih buku untuk dibaca sebelum pelajaran dimulai.

“Bukunya beragam, ada yang buku kakak kelas dulu yang ditinggal, ada juga sukarela teman-teman,” jelasnya.

Buku yang dipajang juga diberi label layaknya buku perpustakaan lengkap dengan data peminjamnya sehingga bisa terdata siswa yang menuntaskan membaca buku, kemudian menulis resume yang diketahui guru.

“Di kelas lain ada reward setiap tuntas membaca berapa buku atau kunjungan buku beberapa kali dengan imbalan bebas uang kas selain sertifikat dari guru,” pungkasnya

Kepala SMAN 21, Yatno Yuwono, mengungkapkan, acara ini berlangsung guna memotivasi siswa akan pentingnya membaca.

Pertimbangannya, hal itu berimbas pada kemampuan menulis dan berkarya dengan membuat cerpen dan berbagai tulisan.

Apalagi taman baca di kelas sudah lama diterapkan pada siswa. Tiap kelas memiliki ketua taman baca yang mengatur peminjaman buku dan melaporkan hasik kunjungan dan resume teman-temannya.

“Kami juga menghadirkan sastrawan untuk memotivasi siswa bahwa membaca juga menjadi awal dari seorang penulis sukses yang bisa dikembangkan,” jelasnya.

Sastrawan yang turut hadir mengisi kegiatan festival, Khanis Selasih, mengungkapkan dirinya sejak SD suka menulis, kemudian nilai pelajarannya menurun.

Hal ini tentunya membuat orangtuanya menghukum dengan menambah jam mengajinya.

“Masa jaya saya di SMP, tulisan saya diapresiasi. SMA saya ambil sekokah farmasi, akhirnya nggak punya waktu untuk menulis lagi. Sempat ambil kuliah psikologi di Ubaya sebentar, dan akhirnya saya kembali menulis lagi,” terangnya.

Source:  surabaya.tribunnews.com


Post Views: 305


Leave a comment

Comments

Copyrights © 2017 All rights reserved